
Sunnatullah adalah hukum alam yang sudah menjadi ketentuan Allah yang tidak akan berubah dan berganti (QS 33: 63, 35: 43).
(33:63) Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.
(35: 43) kerana kesombongan (mereka) di muka bumi dan kerana rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.
Dalam Al-Quran kata sunnatullah semakna dengan fikratullah (QS 30:30). Adalah sunnatullah, setitik noktah hitam yang menitis pada segelas air jernih dapat menghitamkan seluruh air itu dengan sekejap. Dan merupakan sunnatullah juga bahawa setitis air jernih tidak akan membuat air hitam itu kembali jernih. Begitulah sunnatullah dalam air. Itulah fitrah air.
(30:30) Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Subhanallah. Air adalah sumber kehidupan. Firman Allah, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (QS 21:30). Setiap yang hidup diciptakan dari air, ertinya semua yang hidup memiliki fitrah air.
(21: 30) Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahawasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakan mereka tiada juga beriman?
Manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan dari air. Maka jiwa manusia pun punya fitrah air. Seperti fitrah air yang bermula dengan kejernihannya, jiwa manusia pada awalnya adalah jiwa yang bersih. Sabda Nabi saw, “Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).” Tapi begitulah air jernih, dia akan sangat mudah terwarnai meski hanya dengan setitik noktah hitam, tetapi ia tidak mudah kembali jernih.

Kejernihan jiwa manusia dikotori oleh noktah-noktah dosa dan kemaksiatan. Sabda Nabi saw, “Sesungguhnya seorang hamba jika ia melakukan kesalahan akan dititikkan di hatinya sebuah titik hitam. Jika ia menghentikan kesalahannya lalu beristighfar dan bertaubat hatinya akan kembali dijernihkan, tetapi jika ia kembali melakukan kesalahan itu, akan ditambahkan titik-titik hitam itu hingga membungkus hatinya.”
Astagfirullah.. Seperti apakah warna hati kita? Setiap detik kemaksiatan berlalu di depan mata. Betapa sulitnya kita menghindari aktiviti dosa. Maksiat mata di depan televisyen, dan movie dan di jalan-jalan, maksiat tangan dan kaki di pejabat, pasar, public places, sekolah/uni, bahkan di setiap tempat, maksiat mulut ketika mencaci dan mengunjung orang lain, ketika makan wang hasil korupsi, hasil menipu, maksiat hati ketika riya’, ketika sum’ah (ingin didengarkan), sombong, dan merendahkan orang lain. Semuanya telah membuat hati kita semakin hitam.
Seperti air yang telah terlanjur menghitam, ia tidak akan kembali jernih hanya dengan satu dua titis air jernih. Untuk menjernihkan air yang telah menghitam ada dua langkah yang harus dilakukan. Pertama, jangan menitiskan noktah hitam lagi. Dan kedua, mencurahkan air jernih sebanyak-banyaknya.
Noktah hitam adalah dosa dan maksiat sedangkan air jernih adalah taat dan amal kebaikan. Untuk menjernihkan kembali hati, kita harus menghentikan segala bentuk dosa dan maksiat serta melaksanakan sebanyak-banyaknya amal ketaatan dan kebaikan. Hati akan kembali hitam hanya kerana setitik noktah hitam dosa, maka jangan sekali-kali meremehkan sekecil apapun kemaksiatan. Tapi hati tidak mudah kembali jernih hanya dengan ketaatan yang sekadarnya, maka jangan sekali-kali merasa cukup dengan amal kebaikan.
Jika manusia memiliki fitrah air, maka masyarakat juga pasti memiliki fitrah air. Sekecil apapun dosa dan kemaksiatan yang telah membudaya dalam masyarakat, ia akan mengotori jiwa masyarakat itu. Sedangkan untuk menjernihkan jiwa masyarakat harus dihilangkan segala bentuk budaya maksiat dan membudayakan ketaatan dan kesolehan sebanyak-banyaknya.

Apa pun terjadi dalam jiwa masyarakat kita tidak jauh berbeza dengan apa yang terjadi dalam jiwa kita. Keduanya perlu mendapatkan pembaikan. Untuk memperbaiki dan menjaga kejernihan hati, celupkanlah hati dengan sibghah (celupan) Allah. “Sibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik sibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepadaNya lah kami menyembah (QS 2:138)